Tuesday, 17 June 2014

Gestalt Psychology


Gestalt merupakan istilah bahasa Jerman yang artinya bisa bermacam-macam, yaitu form, shape, hal, peristiwa, hakikat esensi, totalitas.

Psikologi gestalt mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas bahwa data-data dalam Psikologi gestalt disebut sebagai fenomena atau gejala.
Fenomena adalah data yang paling dasar bagi Psikologi gestalt. Dalam fenomena harus selalu melihat adanya 2 unsur, objek dan arti. Objek dari fenomena mempunyai sifat-sifat yang dapat di deskripsikan, tetapi objek itu segera tertangkap oleh indera kita, maka kita akan menerimanya sebagai informasi dan pada saat ini kita sudah memberi arti pada objek itu.

Franz Brentano (1838-1917)
Franz Brentano adalah perintis dan guru dari tokoh-tokoh Psikologi gestalt. Pikiran-pikiran Brentano banyak kesamaan dengan pikiran-pikiran Aristoteles, sehingga Brentano sering disebut sebagai neo-Aristotelelian. Gejala kejiwaan harus dipandang sebagai suatu fenomena yang mesti sebagaimana adanya, sebagai totalitas. Brentano berpendapat bahwa dasar dari gejala tingkah laku kejiwaan (psychic arts) adalah persepsi dalam (inner perception), yaitu persepsi yang tak terbatas pada persepsi oleh indera-indera belaka. Brentano juga membedakan antara aksi psikis (psychic acts) dan isi nonpsikis (non psychic contents) dalam fenomena kejiwaan.
Brentano adalah pelopor aliran psikologi fenomenalogi, yaitu aliran psikologi yang berusaha mempelajari jiwa sebagai fenomena dengan metode yang deskriptif.

Christian von Ehrenfels (1859-1932)
Christian von Ehrenfels adalah tokoh yang karyanya sudah di singgung diatas, bukanlah termasuk dalam kelompok aliran Psikologi Gestalt sendiri, namun ialah yang meletakkan dasar-dasar dari aliran Psikologi Gestalt yang akan timbul kemudian.







Max Wertheimer (1880-1943)
Max Wertheimer adalah tokoh yang tertua dari 3 serangkai tokoh-tokoh Psikologi gestalt. Wertheimer dianggap sebagai pendiri Psikologi Gestalt pada tahun 1912, bersamaan dengan keluarnya kertas kerjanya yang berjudul “Experimental Studies of the Perception of Movement”. Wertheimer mengemukakan hasil eksperimennya dengan menggunakan alat yang disebut stroboskop, yaitu alat berbentuk kotak yang diberi alat untuk melihat ke dalam kotak itu. Menurut Wertheimer, gerak stroboskopik ini tidak dapat diterangkan dengan teori struktualisme dan elementisme, tetapi hanya dapat diterangkan dengan teori Gestalt, yaitu bahwa seseorang melihat lingkungannya secara menyeluruh.

Dalam bukunya Investigation of Gestalt Theory. Wertheimer mengemukakan hukum-hukum gestalt untuk pertama kalinya, yaitu sebagai berikut;
1.     Hukum kedekatan (law of proximity)
2.     Hukum ketertutupan (law of closure)
3.     Hukum kesamaan (law of equivalence)

Kurt Koffka (1886-1941)
Kurt Koffka adalah guru besar luar biasa Giessen. Sumbangan Kurt Koffka kepada Psikologi adalah penyajian yang sistematis dan pengalaman dari prinsip-prinsip gestalt dalam rangkaian gejala Psikologi, dari mulai persepsi, belajar mengingat, sampai dengan psikologi belajar dan social. Kurt Koffka percaya bahwa proses perkembangan pada hakikatnya adalah hasil interaksi antara kondisi-kondisi internal dan eksternal (hepotese of konvergensi) dan terdiri dari defernsiasi yang terus menerus dari pengalaman-pengalaman yang semula kabur.
Teori Koffka tentang belajar didasarkan pada anggapan bahwa belajar, sebagaimana tingkah laku lainnya pula, dapat diterangkan dengan prinsip-prinsip organisasi dari Psikologi gestalt. Teori Koffka tentang belajar;
1.     Salah satu faktor yang penting dalam belajar adalah jejak-jejak ingatan (memory traces), yaitu pengalaman-pengalaman yang membekas pada tempat-tempat tertentu di otak.
2.     Perubahan-perubahan yang terjadi pada ingatan bersamaan dengan jalannya waktu tidak melemahkan jejak-jejak ingatan itu (dengan perkataan lain tidak menyebabkan terjadinya lupa), melainkan menyebabkan perubahan jejak, karena jejak ingatan itu cenderung diperhalus dan disempurnakan untuk mendapat gestalt yang lebih baik dalam ingatan.
3.     Latihan-latihan akan memperkuat jejak ingatan.

Wolfgang Kohler (1887-1967)
Karya Kohler yang paling terkenal adalah penyelidikannya mengenai tingkah laku kecerdasan (intelligent behavior) pada hewan, utamanya pada simpanse. Bertitik tolak belakang dari teori Thorndike yang beranggapan bahwa tingkah laku hewan pada dasarnya adalah tingkah laku coba-salah (trial and error), Kohler membuat eksperimen-eksperimen dengan kera dan membuktikan bahwa pada kera pun terdapat pemahaman (insight).





F. Krueger (1924)
F. Krueger memperkenalkan pada dunia Psikologi istilah ganzheit di Leipzing. F. Krueger sendiri menyatakan bahwa ganzheit tidak sama dengan gestalt. F. Krueger juga berpendapat bahwa Psikologi gestalt terlalu menitikberatkan pada masalah persepsi objek. Padahal yang penting menurut F. Krueger adalah penghayatan secara menyeluruh terhadap ruang dan waktu, bukan hanya persepsi saja atau totalitas objek-objek saja. Konsekuensi dari pendapat ini adalah bahwa tingkah laku harus diamati secara holistic atau moral, yaitu suatu tingkah laku harus dipandang dalam hubungannya dengan tingkah laku lain, baik yang terjadi sebelumnya, sesudahnya atau pada saat yang bersamaan.

Kurt Lewin (1890-1947)
Kurt Lewin mula-mula tertarik pada paham Gestalt, tetapi kemudian ia mengeritik teori gestalt karena dianggapnya tidak adekuat. Penelitian Kurt Lewin kepada suatu kesimpulan bahwa persepsi dan tingkah laku seseorang tidak hanya ditentukan oleh bentuk keseluruhan atau sifat totalitas dari rangsang atau emergent, tetapi ditentukan oleh kekuatan-kekuatan (forces) yang ada dalam lapangan psikologis (psychological field) seseorang. Lapangan psikologis ini terdiri dari rangsangan-rangsangan di luar maupun system motivasi dan dorongan-dorongan di dalam diri orang yang bersangkutan.
Teori Kurt Lewin diatas disebut teori lapangan (field theory) atau disebut juga sebagai topologi (geometri nonmetric dari kekuatan-kekuatan dalam lapangan psikologis). Arah dri tingkah laku ditetapkan melalui hodologi, yaitu ilmu tentang arah tingkah laku.
Teori Kurt Lewin disebut juga psikodinamika. Teori ini yang sifatnya praktif penting dilakukan adalah teori tentang konflik membagi dalam 3 jenis yaitu antara lain;
1.     Approach conflict, ini terjadi jika seseorang menghadapi 2 objek yang sama-sama bernilai positif.
2.     Avoidance-avoidance conflict, ini terjadi jika seseorang berhadapan dengan 2 objek yang sama mempunyai nilai negative tetapi ia tidak bisa menghindari kedua objek itu sekaligus.
3.     Approach-avoidance conflict, ini hanya terdapat 1 objek yang mempunyai nilai positif dan negative sekaligus.
Kurt Lewin juga berpendapat lagi bahwa pengembangan teori kepada praktik adalah tentang training group atau T-group atau sensitivity training (laitihan kepekaan), sebagai akibat industry orang-orang di Negara barat sudah terlalu individualism, sehingga antara system psikologis di dalam dirinya dengan lingkungan sekitarnya terdapat dinding pemisah yang makin tebal.

No comments:

Post a Comment