Gestalt merupakan istilah bahasa Jerman yang
artinya bisa bermacam-macam, yaitu form, shape, hal, peristiwa, hakikat esensi,
totalitas.
Psikologi gestalt mempelajari suatu
gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas bahwa data-data dalam Psikologi
gestalt disebut sebagai fenomena atau gejala.
Fenomena adalah data yang paling dasar
bagi Psikologi gestalt. Dalam fenomena harus selalu melihat adanya 2 unsur,
objek dan arti. Objek dari fenomena mempunyai sifat-sifat yang dapat di
deskripsikan, tetapi objek itu segera tertangkap oleh indera kita, maka kita
akan menerimanya sebagai informasi dan pada saat ini kita sudah memberi arti
pada objek itu.
Franz
Brentano (1838-1917)
Franz Brentano adalah perintis dan guru
dari tokoh-tokoh Psikologi gestalt. Pikiran-pikiran Brentano banyak kesamaan
dengan pikiran-pikiran Aristoteles, sehingga Brentano sering disebut sebagai
neo-Aristotelelian. Gejala kejiwaan harus dipandang sebagai suatu fenomena yang
mesti sebagaimana adanya, sebagai totalitas. Brentano berpendapat bahwa dasar
dari gejala tingkah laku kejiwaan (psychic arts) adalah persepsi dalam (inner
perception), yaitu persepsi yang tak terbatas pada persepsi oleh indera-indera
belaka. Brentano juga membedakan antara aksi psikis (psychic acts) dan isi
nonpsikis (non psychic contents) dalam fenomena kejiwaan.
Brentano adalah pelopor aliran psikologi
fenomenalogi, yaitu aliran psikologi yang berusaha mempelajari jiwa sebagai
fenomena dengan metode yang deskriptif.
Christian
von Ehrenfels (1859-1932)
Christian von Ehrenfels adalah tokoh yang
karyanya sudah di singgung diatas, bukanlah termasuk dalam kelompok aliran
Psikologi Gestalt sendiri, namun ialah yang meletakkan dasar-dasar dari aliran
Psikologi Gestalt yang akan timbul kemudian.
Max
Wertheimer (1880-1943)
Max Wertheimer adalah tokoh yang tertua
dari 3 serangkai tokoh-tokoh Psikologi gestalt. Wertheimer dianggap sebagai
pendiri Psikologi Gestalt pada tahun 1912, bersamaan dengan keluarnya kertas
kerjanya yang berjudul “Experimental Studies of the Perception of Movement”.
Wertheimer mengemukakan hasil eksperimennya dengan menggunakan alat yang
disebut stroboskop, yaitu alat berbentuk kotak yang diberi alat untuk melihat
ke dalam kotak itu. Menurut Wertheimer, gerak stroboskopik ini tidak dapat
diterangkan dengan teori struktualisme dan elementisme, tetapi hanya dapat
diterangkan dengan teori Gestalt, yaitu bahwa seseorang melihat lingkungannya
secara menyeluruh.
Dalam bukunya Investigation of Gestalt
Theory. Wertheimer mengemukakan hukum-hukum gestalt untuk pertama kalinya,
yaitu sebagai berikut;
1.
Hukum
kedekatan (law of proximity)
2.
Hukum
ketertutupan (law of closure)
3.
Hukum
kesamaan (law of equivalence)
Kurt
Koffka (1886-1941)
Kurt Koffka adalah guru besar luar biasa
Giessen. Sumbangan Kurt Koffka kepada Psikologi adalah penyajian yang
sistematis dan pengalaman dari prinsip-prinsip gestalt dalam rangkaian gejala
Psikologi, dari mulai persepsi, belajar mengingat, sampai dengan psikologi
belajar dan social. Kurt Koffka percaya bahwa proses perkembangan pada hakikatnya
adalah hasil interaksi antara kondisi-kondisi internal dan eksternal (hepotese
of konvergensi) dan terdiri dari defernsiasi yang terus menerus dari
pengalaman-pengalaman yang semula kabur.
Teori Koffka tentang belajar didasarkan
pada anggapan bahwa belajar, sebagaimana tingkah laku lainnya pula, dapat
diterangkan dengan prinsip-prinsip organisasi dari Psikologi gestalt. Teori
Koffka tentang belajar;
1.
Salah
satu faktor yang penting dalam belajar adalah jejak-jejak ingatan (memory
traces), yaitu pengalaman-pengalaman yang membekas pada tempat-tempat tertentu
di otak.
2.
Perubahan-perubahan
yang terjadi pada ingatan bersamaan dengan jalannya waktu tidak melemahkan
jejak-jejak ingatan itu (dengan perkataan lain tidak menyebabkan terjadinya
lupa), melainkan menyebabkan perubahan jejak, karena jejak ingatan itu
cenderung diperhalus dan disempurnakan untuk mendapat gestalt yang lebih baik
dalam ingatan.
3.
Latihan-latihan
akan memperkuat jejak ingatan.
Karya Kohler yang paling terkenal adalah penyelidikannya
mengenai tingkah laku kecerdasan (intelligent behavior) pada hewan, utamanya
pada simpanse. Bertitik tolak belakang dari teori Thorndike yang beranggapan
bahwa tingkah laku hewan pada dasarnya adalah tingkah laku coba-salah (trial
and error), Kohler membuat eksperimen-eksperimen dengan kera dan membuktikan
bahwa pada kera pun terdapat pemahaman (insight).
F. Krueger (1924)
F. Krueger memperkenalkan pada dunia
Psikologi istilah ganzheit di Leipzing. F. Krueger sendiri menyatakan bahwa
ganzheit tidak sama dengan gestalt. F. Krueger juga berpendapat bahwa Psikologi
gestalt terlalu menitikberatkan pada masalah persepsi objek. Padahal yang
penting menurut F. Krueger adalah penghayatan secara menyeluruh terhadap ruang
dan waktu, bukan hanya persepsi saja atau totalitas objek-objek saja.
Konsekuensi dari pendapat ini adalah bahwa tingkah laku harus diamati secara
holistic atau moral, yaitu suatu tingkah laku harus dipandang dalam hubungannya
dengan tingkah laku lain, baik yang terjadi sebelumnya, sesudahnya atau pada
saat yang bersamaan.
Kurt
Lewin (1890-1947)
Kurt Lewin mula-mula tertarik pada paham
Gestalt, tetapi kemudian ia mengeritik teori gestalt karena dianggapnya tidak
adekuat. Penelitian Kurt Lewin kepada suatu kesimpulan bahwa persepsi dan tingkah
laku seseorang tidak hanya ditentukan oleh bentuk keseluruhan atau sifat
totalitas dari rangsang atau emergent, tetapi ditentukan oleh kekuatan-kekuatan
(forces) yang ada dalam lapangan psikologis (psychological field) seseorang.
Lapangan psikologis ini terdiri dari rangsangan-rangsangan di luar maupun
system motivasi dan dorongan-dorongan di dalam diri orang yang bersangkutan.
Teori Kurt Lewin diatas disebut teori
lapangan (field theory) atau disebut juga sebagai topologi (geometri nonmetric
dari kekuatan-kekuatan dalam lapangan psikologis). Arah dri tingkah laku
ditetapkan melalui hodologi, yaitu ilmu tentang arah tingkah laku.
Teori Kurt Lewin disebut juga
psikodinamika. Teori ini yang sifatnya praktif penting dilakukan adalah teori
tentang konflik membagi dalam 3 jenis yaitu antara lain;
1.
Approach
conflict, ini terjadi jika seseorang menghadapi 2 objek yang sama-sama bernilai
positif.
2.
Avoidance-avoidance
conflict, ini terjadi jika seseorang berhadapan dengan 2 objek yang sama
mempunyai nilai negative tetapi ia tidak bisa menghindari kedua objek itu
sekaligus.
3.
Approach-avoidance
conflict, ini hanya terdapat 1 objek yang mempunyai nilai positif dan negative
sekaligus.
Kurt Lewin juga berpendapat lagi bahwa
pengembangan teori kepada praktik adalah tentang training group atau T-group
atau sensitivity training (laitihan kepekaan), sebagai akibat industry
orang-orang di Negara barat sudah terlalu individualism, sehingga antara system
psikologis di dalam dirinya dengan lingkungan sekitarnya terdapat dinding
pemisah yang makin tebal.
No comments:
Post a Comment